Gede, sih.. tapi rela bagi-bagi?

Ada yang ingat kah itu iklan apa?? Beberapa tahun silam, iklan ini booming banget, lho. Yap, Silverqueen.

Di iklannya itu ada kalimat seperti ini, “Coklatnya yang nikmat? Atau kacang medenya yang gurih?”

Memikat banget sih ini, udah ngecap lidah duluan, hmm..

Siapa yang gak tau Silverqueen?
Rasa coklatnya yang gak pernah terlupakan kayak kenangan mantan
Apakah kalian tahu Silverqueen itu punya Indonesia? Wah masa iya sih?
Apakah kalian tahu lika-liku Silverqueen sampai bisa dititik sekarang ini? Yuk, cekidot kita cek

Silverqueen, coklatnya yang sudah bisa kita lihat di toko maupun swalayan adalah produk asli Indonesia.

Pabriknya sendiri berawal dari kota Garut. Awalnya perusahaan ini bernama NV Ceres milik Belanda, pada tahun 1942 Belanda yang akan meninggalkan kota Garut kemudian menjual NV Ceres dengan harga murah. Hal ini dimanfaatkan oleh Ming Chee Chuang. Pria yang berasal dari Burma keturunan Tionghoa yang kemudian menetap di Bandung pada zaman kolonial.

Ming Chee Chuang mengganti nama NV Ceres menjadi Perusahaan Industri Ceres. Saat itu produk yang dikeluarkan berupa biskuit wafer dengan nama Ritz. Produksi biskuit wafer Ritz ini pun dilakukan pada tahun 1951. Sayangnya Nibisco Food mengklaim biskuit wafer Ritz tersebut. Hal ini lantaran merek Ritz sudah hadir sejak tahun 1949 yang didirikan oleh pengusaha asal Belanda. Tidak berhenti begitu saja, Perusahaan Ceres pun melakukan perjuangan atas hak nama Ritz. Usaha tersebut membuahkan hasil, Ritz menjadi merek wafer milik Ceres.

Di tahun 1950-an, perusahaan ini juga memproduksi sebuah coklat batangan, yang kemudian dikenal dengan nama Silverqueen.

Di sebuah negara tropis, inovasi coklat yang dibuatnya terlihat tidak mungkin dan tidak dapat menguasai pasar.

Coklat yang memiliki sifat dasar dapat meleleh dengan cepat, menjadikan Ming Chee Chuang berpikir ulang bagaimana agar coklat tersebut dapat dinikmati dengan kondisi yang utuh; tidak meleleh tapi tetap lumer di mulut.

Coklat Silverqueen diproduksi dengan campuran coklat dan kacang mede dalam bentuk batangan. Sebagaimana sebuah bangunan, ia memerlukan sebuah perekat agar kondisi coklat kokoh, kemudian ia berpikir untuk mencampurkan coklat dengan kacang mede yang membuat coklat Silverqueen terlihat kuat.

Sebuah program yang dikenal dengan Program Benteng pada April tahun 1950 yang diselenggarakan oleh Pemerintah muncul. Program ini ditujukan untuk perusahaan yang berstatus sebagai perusahaan asli Indonesia “pribumi”. Namun sayang Chuang tidak mendapatkan kesempatan tersebut.

Coklat hasil produksi perusahaan Chuang mencapai titik puncaknya pada Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diadakan di Bandung pada 1955. Saat itu Chuang mendapat pesanan coklat dari Presiden Soekarno. Ia ditugaskan untuk memproduksi coklat untuk acara KAA yang sedang berlangsung. Hal ini membuat Chuang memindahkan perusahaannya yang semula di Garut ke Bandung.

Seiring berkembangnya zaman dan berjalannya waktu, Ming Chee Chuang mewariskan perusahaannya kepada anak laki-laki tertuanya, John Chuang. John pun menjadi CEO dari perusahaan tersebut, yang juga mengontrol keuangan perusahaan. Sementara itu Joseph Chuang, adik dari John mendapat jatah untuk mengurus food service dan urusan pabrik.

Pada tahun 1984, anak-anak dari Chuang mendirikan sebuah perusahaan bernama Petra Food, yang juga memiliki kantor pusat di Singapura. PT Perusahaan Industri Ceres pun menjadi salah satu bagian dari Petra Food, dengan beragam produk yang juga menjadi merek andalan mereka, seperti Delfi, Silver Queen, RitzBiskuit Selamat, Chunky, wafer Briko, Top dan juga meises Ceres

Kini, Silverqueen yang memiliki slogan Santai belum lengkap tanpa #Silverqueen ini menilik semua kalangan, baik muda dan tua. Silverqueen acap kali sering dijadikan sebagai hadiah untuk pasangan atau orang tercinta.

Jadi, kamu mau kasih hadiah apa untuk orang yang kamu sayang?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here