Mengenal Etilen Glikol dan Dietilen Glikol, Senyawa Penyebab Gangguan Ginjal Akut Pada Anak

Mengenal Etilen Glikol dan Dietilen Glikol, Senyawa Penyebab Gangguan Ginjal Akut Pada Anak

Belakangan ini masyarakat Indonesia dibuat cemas dengan kemunculan kasus gangguan ginjal akut progresif atipikal atau Acute Kidney Injury (AKI) yang menjangkit anak-anak usia 6 bulan-18 tahun. Menurut laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) per tanggal 20 Oktober, penyebaran penyakit ini menunjukkan peningkatan. Sebanyak 206 kasus ditemukan yang tersebar di 20 provinsi. Bahkan dari total kasus tersebut banyak didominasi anak usia 1-5 tahun.

Menindaklanjuti hal tersebut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengambil langkah antisipatif dengan melarang penggunaan dua bahan berbahaya yang disinyalir kuat menjadi pemicu kematian akibat gangguan ginjal akut pada anak. Kedua bahan yang dimaksud adalah etilen glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG). 

Apa itu Etilen Glikol dan Dietilen Glikol?

Melansir dari detikhealth, Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Apt. Yeni Farida, M.Sc., menjelaskan bahwa Etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) merupakan cairan tidak berwarna yang mengandung alkohol dan memiliki bau yang menyenangkan. Selain itu, Etilen Glikol dan Dietilen Glikol juga memiliki  rasa manis yang fungsinya sebagai pelarut. Umumya kedua zat ini sering digunakan untuk industri seperti radiator, rem hidrolik, cat, tinta stampel, dan kosmetik. 

Bahaya Mengonsumsi Etilen Glikol dan Dietilen Glikol

Menurut Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Prof. apt. Muchtaridi, PhD, etilen glikol dan dietilen glikol yang masuk ke dalam tubuh dapat memicu terjadinya batu ginjal.

Dirinya menjelaskan, etilen glikol dan dietilen glikol yang dikonsumsi tubuh akan mengalami oksidasi oleh enzim dan membentuk glikol aldehid. Proses oksidasi itu akan kembali berlanjut hingga menjadi asam glikol oksalat dan kemudian membentuk kembali menjadi asam oksalat. Asam oksalat ini yang kemudian dianggap menjadi pemicu terjadinya batu ginjal.

“Asam oksalat kelarutannya kecil, kalau ketemu kalsium akan terbentuk garam yang sukar larut di air dan larinya akan ke organ seperti empedu dan ginjal. Jika lari ke ginjal akan jadi batu ginjal. Kristalnya tajam akan mencederai ginjal,” papar Prof. Apt. muchtaradi, PhD dikutip dari CXO Media, pada Jumat (21/10/2022).

Dirinya pun tidak bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada anak-anak, sebab ukuran ginjal yang dimiliki anak-anak lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Maka dari itu, kata dia, tidak heran jika angka kematian anak yang disebabkan oleh obat-obatan yang mengandung etilen glikol dan dietilen glikol meningkat hingga saat ini.

Imbauan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)

Menyikapi kasus luar biasa yang terjadi, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) turu menyampaikan sarannya kepada seluruh tenaga kesehatan. IDAI tidak menganjurkan dokter anak memberikan resep obat sirup. Namun diganti dengan Obat puyer sebagai langkah antisipasi.

Sementara itu, IDAI juga mengimbau agar masyarakat tidak membeli obat bebas tanpa resep obat sementara waktu sampai hasil investigasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) selesai.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

On Key

Related Posts

Menkes Budi Gunadi akan Datangkan 200 Vial Obat Fomepizole

Kemenkes Siapkan 200 Vial Obat Fomepizole

Pemerintah berencana akan mendatangkan 200 vial obat Fomepizole atau penawar racun yang nantinya akan diberikan kepada pasien gangguan ginjal akut misterius. Hal itu disampaikan langsung