Perjalanan Tirto Utomo, dari di Tolak Hingga Sukses Telak

0
483

Sadar gak sih? Apapun minuman air mineral, kita sebut Aqua. Padahal di industri air mineral sangat banyak terdapat brand lain. Tapi kenapa, ya, Aqua menjadi yang terpikirkan untuk selalu diucapkan?

Sumber gambar : biografi ku.com

Wah, ternyata sebelum Aqua dikenal banyak orang, pendiri Aqua yaitu Pak Tirto Utomo banyak banget ditentang oleh masyarakat. Pasalnya, yang beliau jual itu air bro, sis. Air. Ya lantas banyak yang berucap “Kok jualan air mineral? Di rumah juga ada.”

Tidak lama kemudian, pak Tirto resign dari kantornya, sebagai pegawai di Pertamina. Tekad pak Tirto kuat. Beliau resign dan mendirikan perusahaan air minum dalam kemasan (AMDK) Aqua.

Yhaa, kalo dipikir-pikir sih, ya, bener juga. Air di rumah kan juga banyak, ini kok pake di jual sama pak Tirto. Tapi, pak Tirto membuat ini bukan tanpa alasan. Awalnya pak Tirto melihat tamu dari luar negeri dalam sebuah undangan sedang sakit perut. Ketika ditelusuri ternyata sang tamu tidak cocok dengan air minum yang disediakan. Eh, eh? Kok bisa? Padahal biasanya karyawan disana juga minum air tersebut nggak kenapa-napa. Setelah itu, pak Tirto melakukan perjalanan ke luar negeri dan melihat adanya air kemasan air mineral yang dijual disana. Air kemasan dengan botol kaca. Akhirnya pak Tirto memiliki ide, kenapa tidak ia membuat air minum kemasan karena belum ada di Indonesia.

Diawal penjualan nya, Aqua mendapat banyak penolakan. Aqua dikemas dengan botol kaca. Sampai titik dimana akhirnya Aqua menggantinya dengan kemasan botol plastik dan penjualan nya pun tetap, monoton. Akhirnya, atas saran dari Willy Sidharta, mantan direktur utama Aqua, harganya dinaikkan menjadi 3x lipat dari Rp 75 menjadi Rp 175.

Dan pak Tirto menyetujui sarannya.
Sebenarnya bukan tanpa pertimbangan kenaikan harga menjadi 3 kali lipat itu ditujukan untuk mendapatkan trust atau kepercayaan masyarakat bahwa air mineral ini layak untuk dikonsumsi. Di luar negeri, air mineral dijual dengan kisaran harga Rp 350. Willy menduga, dengan mendekati harga pasar, kepercayaan konsumen tumbuh. “Barang kalau dijual terlalu murah kan kita malah curiga.”

Kalau dipikir-pikir, kalo murah aja gak laku, gimana kalau mahal? Duh gak ada yang beli!

Tapi, ternyata keputusan ini yang menjadi tonggak keberhasilan Aqua. Grafik penjualan Aqua naik. Semula penjualan hanya beredar di lingkungan orang asing, terutama di ekspatriat Jepang pada akhir tahun 1970-an, warga lokal banyak mulai mengenal Aqua bahkan diakhir 1980-an penjualannya melampaui penjualan di kalangan ekspatriat. Strategi distribusi semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Sumber gambar : ghaisanieka.wordpress.com

Kini, tagline #AdaAqua menjamur di masyarakat. Apapun dikaitkan dengan Aqua. Kurang fokus? Minum Aqua. #AdaAqua. Selain tagline #AdaAqua itu, strategi marketing Aqua yang ada di kemasan botol, mulai dari tulisan atau notes yang unik, dan juga desain gambar yang menarik membuat anak kecil merengek langsung minta beli. Hehehe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here