BerandaTeknologiHiburanRisiko Dibalik Video Viral Tak Lazimnya Mengonsumsi Kucing

Risiko Dibalik Video Viral Tak Lazimnya Mengonsumsi Kucing

Beberapa waktu lalu, warganet dihebohkan dengan video seorang pria yang sedang menyantap seekor kucing. Aksi tak lazim tersebut terjadi di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Dalam video itu, terlihat seorang pria tersebut mengenakan jaket cokelat dan bertopi biru. Dirinya terlihat lahap memakan kucing berwarna oranye dan kini pihak kepolisian masih mencari identitas pria tersebut.

Terlepas dari peristiwa tak lazimnya, memakan kucing jelas tidak baik untuk kesehatan. Sebuah riset menunjukkan, bahwa daging kucing mengandung sejumlah penyakit.

Meski begitu, praktik memakan kucung justru lazim dilakukan di Manado, Sulawesi Utara. Di daerah itu orang-orang bebas untuk membeli daging kucing.

Namun, tak seperti yang dilakukan pria dalam video tersebut dengan memakan kucing mentah-mentah. Masyarakat Manado biasa mengolah daging kucing dengan memasaknya sebelum disantap.

Nah, Sebenarnya ada tidak sih risiko memakan daging kucing itu?

Dikutip dari jurnal berjudul ‘Consumption of Domestic Cat in Madagaskar: Frequency, Purpose, and Health Implication (2015), bahwa memakan daging kucing dapat berisiko bagi manusia.

Dalam jurnal itu sendiri banyak membahas fenomena masyarakat Madagaskar yang gemar memgonsumsi daging kucing. Para peneliti yang berasal dari Temple University (AS) hingga University of Antananarivo (Tanzania) memetakan pola konsumsi daging kucing, alasan mereka makan, serta potensi penyakit yang menghantuinya.

Menurut peneliti, mengonsumsi daging kucing memiliki sejumlah potensi penyakit. Khususnya saat menyantap daging kucing yang kurang matang atau bahkan tidak dimasak terlebih dahulu.

Salah satu potensi penyakit yang muncul akibat mengonsumsi daging kucing adalah Botulisme. Botulisme sendiri merupakan kondisi keracunan serius yang menyerang sistem syaraf (otak dan sumsum tulang belakang), sehingga dapat menyebab kelumpuhan yang secara bertahap menyebar ke seluruh tubuh.

Penyakit ini muncul disebabkan oleh bakteri Clostridium Botulinum. Bakteri tersebut memproduksi racun botulin, penyebab terjadinya Botulisme.

Selain itu, kucing merupakan tempat tinggal bagi kutu. Kutu-kutu inilah yang memiliki risiko bagi kesehatan manusia. Salah satunya, bakteri Borrelia Crocidurae yang dapat menyebabkan demam tinggi.

Lalu yang lebih mematikan lagi adalah kucing merupakan sarangnya parasit protozoa Toxoplasma Gondii. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit toksoplasmosis dan bisa berakibat fatal bagi manusia, terutama bagi mereka yang memiiki sistem kekebalan yang lemah.

Dalam kerjanya, Taksoplasmosis memengaruhi saluran pencernaan manusia. Termasuk mulut, kerongkongan, lambung, usus dan anus. Organ vital lainnya seperti jantung, saraf, dan kulit juga dapat terganggu.

Bagi ibu hamil, taksoplasmosis mengakibatkan kelainan bentuk serius seperti kebutaan dan kerusakan neurologis pada bayi. Hingga kini, belum ada vaksin yang mampu menangkal penyakit tersebut.

Di Madagaskar, fenomena makan daging kucing erat kaitannya dengan pendidikan yang rendah. Peneliti melihat bahwa konsumsi daging kucing tinggi di daerah pedesaan. Meski demikian, peneliti tak merinci ada berapa orang yang jatuh sakit akibat memakan kucing.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Must Read