BerandaInformasiPotret Kemiskinan di Ufuk Timur Indonesia

Potret Kemiskinan di Ufuk Timur Indonesia

Ekonomi Negara Indonesia merupakan salah satu kekuatan ekonomi berkembang utama dunia yang terbesar di Asia Tenggara dan terbesar di Asia ketiga setelah China dan India. Ekonomi negara ini menempatkan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar ke-16 dunia yang artinya Indonesia juga merupakan anggota G-20.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan, pertumbuhan perekonomian Indonesia saat ini jauh lebih baik ketimbang negara-negara lain di tengah kondisi ekonomi dunia yang tidak pasti.

Negara lain ekonominya menurun, bahkan ada yang resesi. Tahun 2019 negara Indonesia ada dikisaran 5,1%. Inflasi akhir tahun 2019 3,3% itu rendah dibanding target yang 3,5%. Tahun sekarang diarahkan agar bisa 5,3% dari konsumsi domestik dan investasi.

Meski secara nasional presentase kemiskinan menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami penurunan sebesar 0,25 persen (0,53 juta orang) dari 25,14 juta orang, namun presentase penduduk miskin di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih saja tinggi bahkan meningkat sebesar 0,06 persen (12,21 ribu orang) dari 1.146,32 ribu orang pada Maret 2019 terhadap September 2018.

Masih banyak masyarakat NTT yang hidup di dalam kemiskinan atau dengan perekonomian menengah ke bawah. Mereka sampai kesulitan atau bahkan tidak mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-harinya.

Mirisnya, saking sulit masyarakat NTT memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sampai-sampai tidak sanggup untuk membeli tempat tinggal yang layak. Seperti yang dialami oleh keluarga Miguel Noronya, warga Dusun Wemalae (Tubaki), Desa Wehali, Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, NTT. Tempat tinggal mereka masih jauh dari kata layak huni. Miguel adalah buruh tani dan mantan pejuang merah putih di Timor-Timur. Saat Timor-Timur lepas dari NKRI, Miguel bahkan rela meninggalkan seluruh harta dan keluarganya. Dirinya memilih Indonesia sebagai negaranya dibandingkan semua hal yang bersifat pribadi.

Keluarga Miguel tidak mempunyai lahan sendiri untuk digarap. Tanah yang digarap selama ini adalah milik Dinas Kehutanan Provinsi NTT. Selain dijadikan kebun, di lahan itu juga Miguel membangun sebuah gubuk reot sebagai tempat tinggal bagi isterinya, Fransiska da Silva (40) dan ketujuh anaknya.

Miguel hanya seorang petani miskin yang hanya bisa mencari makan untuk anak dan istrinya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya dirinya belum bisa menyanggupi.

Meski hidup dalam kemiskinan, Miguel bersama keluarganya tidak pernah mendapatkan bantuan sosial dari desa maupun pemerintah kabupaten Malaka. Bahkan, ia mengaku sudah dua kali didata pemerintah desa sebagai keluarga miskin yang menerima bantuan namun sampai saat ini Miguel tak pernah merasakan bantuan dalam bentuk apapun.

Untuk bertahan hidup sehari-hari, Miguel bersama isterinya mengolah hasil kebun untuk dijual ke pasar. Dari hasil jualan yang tidak seberapa itu, ia sisihkan sebagian uangnya untuk membiayai sekolah ke empat anaknya. Sementara tiga anaknya yang belum memasuki rentang umur sekolah, setiap hari membantu orangtuanya di kebun.

Lantaran tidak mempunyai biaya, anak Miguel bernama Julio Noronya (14) dan Margadida Noronya (12) gagal menerima komuni pertama sebagai sakramen kedua dalam ajaran gereja katolik.

Dua kakak beradik ini bersekolah di SDI Harekakae masuk dalam wilayah Paroki Kamanasa, Keuskupan Atambua, NTT.

Menurut ibu mereka, Fransiska da Silva, syarat untuk bisa menerima komuni pertama persyaratannya adalah wajib mengumpulkan uang sebesar 250 ribu rupiah per anak calon penerima komuni pertama.

Hal ini sangat berat bagi keluarga Miguel karena kondisi ekonomi yang sangat lemah. Bagaimana tidak, kedua anak mereka yang sudah memenuhi syarat secara umur untuk menerima komuni pertama harus menyumbangkan 500 ribu rupiah untuk gereja.

Menurut dia, uang sumbangan itu diminta oleh gereja melalui guru agama kedua anaknya di sekolah. Ia juga mengaku tidak tahu arah aliran dana itu untuk apa kegunaannya. Hanya yang terpenting baginya adalah biaya itu sangat berat bagi mereka yang hidupnya dililit kemiskinan.

Menurut info yang didapatkan Miguel bahwa uang 200 ribu itu untuk gereja dan sisanya untuk biaya beli air mineral di sekolah. Dirinya pribadi tidak mempersoalkan arah aliran dana itu ingin ditujukan kemana, hanya saja memang keadaan ekonomi keluarga dalam keadaan tidak sanggup saat itu.

Selama ini kemiskinan menjadi momok yang menakutkan. Karena jika seseorang miskin berarti ia membutuhkan perjuangan yang keras untuk mendapatkan sesuatu hal dalam waktu dekat dan belum terpikirkan untuk apa yang terjadi esok hari. Kemiskinan juga berarti tidak akan mampu mempunyai pendapatan yang cukup.

Kemiskinan merupakan momok yang bagi semua orang, tak terkecuali bagi anak-anak. Bisa dikatakan anak-anak dari keluarga miskin merupakan korban sesungguhnya dari kebiadapan kemiskinan. Sebagian besar hak-hak dasar mereka sebagai anak-anak seperti pendidikan, kesehatan, maupun tempat tinggal yang layak, semuanya terampas karena mereka terlahir dari keluarga miskin.

Seakan-akan kesempatan mereka untuk bisa menyenyam kehidupan yang layak dimasa mendatang semakin kecil lantaran hak-hak dasar mereka sebagai anak yang notabene merupakan masa-masa tumbuh berkembang dirampas oleh kemiskinan.

Lingkaran kemiskinan sudah bagaikan benang kusut yang sangat susah untuk diurai. Kemiskinan adalah warisan. Mungkin itu sangat cocok untuk menggambarkan fenomena kemiskinan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read