Kilas Balik 2 Oktober Sebagai Hari Batik Nasional

Pada 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional, dan tentunya peringatan tersebut bukan tanpa alasan.

Batik sendiri memiliki sejarah yang panjang bagi bangsa Indonesia dan sangat erat hubungannya dengan perkembangan kerajaan yang pernah berdiri di negara Indonesia, baik itu sejah kerajaan majapahit, maupun kerajaan-kerajaan yang ada setelahnya.

Ada seorang peniliti berasal dari Belanda, G.P Rouffaer mengungkapkan sebuah fakta mengenai sejarah batik dalam penelitiannya, ia mengatakan jika batik sudah dikenal masyarakat Kediri, Jawa Timur sejak abad ke-12.

Selain itu, diketahui motif batik yang ada ketika itu memiliki pola gringsing yang hanya dapat dibentuk dengan menggunakan alat batik bernama canting.

Berdasarkan landasan ini yang membuat G.P Rouffaer berpendapat jika canting sudah ditemukan masyarakat jawa pada masa itu.

Adapun penemuan lainnya yaitu mengenai ukiran pola kain yang menyerupai pola yang ada batik batik. Ketika itu, dikenakan oleh Prajnaparamita, yakni sebuah arca yang menggambarkan sosok dewi kebijaksanaan bagi umat Buddha Jawa Timur pada abad ke-13.

Hal yersebut pastinya menunjukan masyarakat Jawa kala itu atau di abad sebelumnya sudah mengenal pembuatan pola batik dengan motif yang rumit karena menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang pada kain.

Lalu, Teknik batik sendiri pertama kali diceritakan melalui tulisan dari seorang Gubernur Inggris di tanah Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda, yaitu Sir Thomas Stamford Raffles.

Dirinya pun menceritakan soal teknik batik tersebut dalam sebuah buku History of Java yang diterbitkan di London pada 1817 dan tercatat dalam literatur Eropa.

Baru pada awal abad ke-19, batik mulai mencapai masa keemasannya setelah seorang saudagar Belanda bernama Van Rijekevorsel memberikan selembar kain batik yang didapatkannya ketika datang ke Indonesia pada 1873, kain batik tersebut lalu diberikan olehnya kepada Museum Etnik di Rotterdam, Belanda.

Sejarah juga mencatat awal mula pencetusan tanggal 2 Oktober yang diperingati sebagai Hari Batik Nasional itu diakui pada sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah tentang Warisan Budaya Tak-benda yang diselenggarakan UNESCO di Abu Dhabi pada 2 Oktober 2009.

Pada kesempatan itulah, secara resmi batik terdaftar sebagai Karya Agung Budaya Lisan dan Tak Benda Warisan Manusia di UNESCO.

Ketika itu Menteri Ad-Interim Kebudayaan dan Pariwisata (Budpar) Indonesia, M. Nuh mengungkapkan bahwa keberadaan batik telah diakui secara internasional dalam sebuah sidang terbuka.

“Pengakuan UNESCO terhadap batik itu merupakan proses panjang yang melalui pengujian dan sidang tertutup. Sebelumnya, pada 11-14 Mei 2009 telah dilakukan sidang tertutup dalam penentuan di hadapan enam negara di Paris,” demikian kata M. Nuh pada 2009.

Setelah batik mendapat pengakuan dari UNESCO, presiden Indonesia yang saat itu menjabat, Susilo Bambang Yudhoyono membuat Keprres (Keputusan Presiden) Hari Batik Nasional yang tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

On Key

Related Posts

Menkes Budi Gunadi akan Datangkan 200 Vial Obat Fomepizole

Kemenkes Siapkan 200 Vial Obat Fomepizole

Pemerintah berencana akan mendatangkan 200 vial obat Fomepizole atau penawar racun yang nantinya akan diberikan kepada pasien gangguan ginjal akut misterius. Hal itu disampaikan langsung