BerandaInformasiSurga di Bawah Perairan Indonesia

Surga di Bawah Perairan Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak keanekaragaman flora dan fauna di dalamnya. Salah satu alasannya, karena Indonesia terdapat banyak hutan dan laut yang dapat menjadi keuntungan jika mampu dijaga dan dikelola dengan baik. Terlebih dari sektor kelautan, Indonesia sangat kaya akan biota laut. Hal yang harus disyukuri oleh masyarakat Indonesia, karena dianugrahi kekayaan alam yang melimpah.

“Nenek moyangku seorang pelaut mengarungi luas samudra menerjang ombak tiada takut menempuh badai sudah biasa,” kutipan dari lirik lagu anak tersebut bukan hanya isapan jempol belaka. Jika melihat luas wilayah lautan Indonesia yang jauh melebihi luas daratannya, maka sangat masuk akal jika sudah ada kehidupan sejak jaman dahulu yang mengandalkan laut serta kekayaan alam yang ada di dalamnya. Jika dilihat dari total luas wilayah Indonesia yaitu 7,81 juta km2, yang terdiri dari 2,01 juta km2 daratan, dan seluas 3,25 juta km2 luas lautan.

Foto: FaktualNews.co

Dengan luas lautan yang melebih luas daratan, seharusnya Indonesia mampu memanfaatkan secara maksimal dan optimal sumber kekayaan alam yang terdapat di laut. Tentu, dengan diiringi penjagaan dan perawatan yang dilakukan dengan baik sehingga keberlangsungan ekosistem dari biota laut dapat terjaga dengan baik.

Segala hal juga wajib dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk menjaga agar wilayah yang seharusnya dapat dimaksimalkan untuk kepenting masyarakat Indonesia, tidak diganggu terlebih lagi di rusak oleh negara-negara yang sengaja ingin mengeksploitasi kekayaan biota laut Indonesia.

Foto: cnnindonesia.com

Terlebih kasus yang sedang hangat yaitu terkait laut Natuna yang berusaha di klaim oleh China. Kasus ini tentu menjadi pusat perhatian oleh masyarakat Indonesia. Selain terkait kedaulatan wilayah Indonesia, permasalahan Natuna juga sangat berkaitan dengan kekayaan alam yang dapat diambil atau dimanfaatkan sangatlah besar. Sangat wajar jika China sangat berambisi untuk menguasai wilayah Natuna.

Jika melihat data dari wartaekonomi.co.id penjelasan Pakar Perikanan dari Institute Pertanian Bogor (IPB) Sulistiono membeberkan bahwa wajar China tergiur dengan biota laut yang terdapat di Natuna. Misalkan saja dari ikan yang terdapat di Natuna yaitu ikan pelagis, yang hanya hidup di wilayah bagian atas perairan. Berdasarkan data Kemnterian Kelautam dan Perikanan (KKP) pada September 2019, jumlah ikan pelagis kecil mencapai 330.284 ton, sedangkan ikan pelagis besar mencapai 185.855 ton.

Selain itu, masih banyak ikan demersal (ikan yang hidup di dasar laut dan danau) yang ada di lautan Natuna ini, di mana jumlahnya diperkirakan mencapai 131.070 ton. Ikan demersal dan ikan pelagis memang banyak di wilayah perairan Indonesia lainnya. Hanya saja, khusus di wilayan Natuna ini sangat spesial, karena masih banyak jumlahnya karena belum terlalu terseksploitasi dari masyarakat Indonesia maupun negara asing.

Natuna juga masih meiliki beragam biota laut lainnya, seperti udang panaeid yang mana jumlahnya mencapai 62.342 ton. Terdapat pula cumi-cumi yang jumlahnya mencapai 23.499. Kemudian terdapat ikan karang yang mencapai 20.625 ton. Lalu, terdapat juga rajungam, kepiting, lobster yang jumlahnya masing-masing 9.722 ton, 2.318 ton, dan 1.421 ton.

Tidak sampai di situ, masih terdapat juga ikan napoleon yang sangat langka keberadaannya, di sisi lain juga memiliki harga yang sangat tinggi. Banyak kapal asing masuk secara ilegal untuk memburu ikan tersebut serta kekayaan biota lau di Natuna lainnya.

Bisa dibayangkan jika kekayaan alam sebesar itu mampu dimanfaatkan dengan baik oleh nelayan-nelayan di Indonesia, sehingga keuntungan yang didapat kan kembali lagi untuk Indonesia. Berbanding terbalik jika seluruh kekayaan Natuna di ekslpoitasi oleh negara asing yang hanya ingin mengeruk keuntungan dari wilayah Indonesia dan merusak lingkungan sekitar dan biota laut di dalamnya.

Maka dari itu, pemerintah harus memiliki kebijakan yang menguntungkan dan membuat nyaman nelayan-nelayan di Indonesia untu mencari ikan, di sisi lain harus memberi ketegasan terhadap negara-negara asing yang menggangu wilayah teritorial Indonesia.

Foto: Tirto.id

Tetapi sangat disayangkan, jika melihat pemberitaan di media-media nasional, alih-alih pemerintah melalui menteri-menteri terkait memiliki ketegasan untuk mengambil sikap. Yang tercermin ke masyarakat ialah pemerintah hanya menunggu dan meminta masyarakat untuk tidak ribut dengan situasi yang ada. Dengan dalih, China merupakan negara sahabat, dan ketakutan pemerintah Indonesia terkait investasi yang akan terganggu.

Semua tergantung prioritas. Jika memang pemerintah menganggap perbatasan wilayah Indonesia hal yang penting untuk di jaga dan dipertahankan, maka kebijakan yang seharusnya dilakukan ialah tidak memberi toleransi terhadap kapal asing manapun yang berlayar secara ilegal di perairan Indonesia.

Karena kembali lagi demi kepentingan masyarakat, khususnya nelayan-nelayan Indonesia yang merasa tidak nyaman dan khawatir jika didapat kapal asing masuk ke perairan Indonesia pada saat nelayan sedang mencari dan menangkap ikan di perairan rumahnya sendiri.

Kontributor: Yoel Gelbert

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Must Read