Feminisme dan Patriarkis Tak Lagi Tindas Kaum Lemah, Wanita Modern: Lawan Patriarkis Demi Pertahankan Idealis Masa Depan

Wanita tidak boleh menempati predikat manja dan tidak berdaya dengan adanya patriarkis. Kata-kata “girls just wanna have fun” menjadi pukulan tersendiri bagi kaum yang kontradiksi dengan patriarkis. Pukulan tersebut sekaligus menjadi benteng kuat menuju kebebasan wanita tanpa harus terikat masalah gender. Budaya patriarkis yang masih dijunjung tinggi di masyarakat bukan lagi hal tabu. Patriarkis menjadi budaya berkelanjutan yang dilanggengkan masyarakat, seperti menjadi adat.

5 Alasan Kenapa Budaya Patriarki Masih Ada di Indonesia
IDN Times/Alvita Wibowo

Wanita dengan prinsip mandiri dan kerja keras berani menentang. Melawan budaya yang terbilang erotis tersebut. Kekuatan perubahan zaman semakin modern, mendatangkan inovasi semua bidang. Jika wanita Indonesia yang hidup dengan budaya patriarkis kental tertelan arus, kehidupan gender ini kedepan akan melemah. Kita butuh pembaharuan perspektif perempuan masa depan. Perspektif di masyarakat yang memegang erat patriarkis dan feminis memang tidak mudah dibelokkan. Hal ini menjadi sorotan tersendiri bagi pemegang studi gender.

Perempuan menempati kesetaraan gender sejak idealisme Kartini berdiri. Jika kita tidak berusaha mempertahankan perjuangannya, lantas kita mau jadi perempuan seperti apa di masa depan?

Ibarat klasiknya, Kartini sudah memperjuangkan hak perempuan, jika kita tidak dapat mempertahankan idealis seperti kekuatannya, kita akan mudah melemah. Akhirnya tunduk dengan budaya patriarkis. Akibat lain, beban mental meranggas dalam diri wanita. Yang lemah semakin lemah, yang kuat semakin tergerus. Perbedaan signifikan, perempuan dengan penolakan kuat terhadap patriarkis lebih mempertahankan idealis mentalnya. Bagaimana tidak? Katakanlah ia hidup di lingkungan patriarkis, otomatis perlawanan baginya menjadi makanan sehari-hari demi mempertahankan idealis. Ia butuh kekuatan dari dirinya sendiri. Harus pandai mengatasi beban mental internal dan eksternal.

Pentingnya Layanan Psikologi Klinis untuk Kesehatan Jiwa Selama Pandemi
matain.id

Orang tua secara tidak langsung menjadi pendukung warisan patriarkis bagi anak perempuannya. Beberapa dari mereka bahkan memiliki kemampuan mumpuni dibidang pengetahuan dan pendidikan. Tak ayal, ini membuktikan. Tidak semua kaum yang memiliki skala religiusitas sektor pendidikan menerima konsep idealis perempuan.

Semua perempuan memiliki hak memperjuangkan feminisme. Perempuan yang sudah dirasa cukup umur sering bersinggungan dengan patriarkis dan feminisme. Ucapan patriarkis dari orang sekitar seperti “kapan nikah?” bukan hanya pada perempuan saja, tetapi laki-laki menerima hal serupa yang dibalut konteks lain “Kerja dimana?”. Dua hal menjurus yang lebih banyak menghabiskan energi. Bagi perempuan, budaya patriarkis seperti ini dibarengi dengan feminis, apabila perempuan yang sudah cukup umur wajib menikah. Stigma buruk dari masyarakat yang menjatuhkan mental perempuan.

Kompasiana.com

Hei, Bund. Perempuan memang pemberi generasi, yang meneruskan generasi setiap keluarga. Tetapi tujuan hidup mereka tidak serta merta tentang melahirkan, memasak, mencuci pakaian, memberikan asupan seksual kepada laki-laki, dan menurut dengan semua aturan yang membebani dirinya. Perempuan memang diciptakan dari tulang rusuk laki-laki dan cenderung dilindungi. Tetapi percayalah, kehidupan yang semakin tergerus inovasi zaman membutuhkan perempuan berfikir kritis, maju, dan dapat diandalkan. Perempuan bisa menjadi komponen pembaharu zaman tanpa meninggalkan fitrahnya.

Hak menempuh pendidikan formal mumpuni, memegang teguh idealis masa depan, menempati hirarki tinggi, dan kebebasan dapat dimiliki perempuan masa depan. Hendaknya masyarakat umum tidak boleh serta merta “saklek”, memiliki pandangan jika perempuan harus dipaksa tunduk dan lemah terhadap patriarkis.

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

On Key

Related Posts

Menkes Budi Gunadi akan Datangkan 200 Vial Obat Fomepizole

Kemenkes Siapkan 200 Vial Obat Fomepizole

Pemerintah berencana akan mendatangkan 200 vial obat Fomepizole atau penawar racun yang nantinya akan diberikan kepada pasien gangguan ginjal akut misterius. Hal itu disampaikan langsung